Archive for the ‘Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara..’ Category

Seperti menyusun kertas-kertas usang dengan isi kisah lama.
Lembar demi lembar.
Kemudian aku simpan rapi di rak itu.
Tanpa kulihat lagi. Dan tak kujamah lagi.

Tapi bagaimana dengan ingatan yang tak mampu hilang?

Kisah kita habis dimakan waktu dan usang dengan berlalunya kau semakin jauh.
Namun cerita tentang kita di otakku semakin nyata dan tak bisa pudar.

Aku ingin ingatan ini pun ikut usang bersama kisah di kertas itu.
Tapi bisa kah?
Dan kapan itu?

 

-29. 09. 2012-

.. GieVo

Advertisements

Debar ini masih untukmu saja, bukan untuknya, bukan yang lain.
Seperti kata-mu, tak ingin kembali ke masa lalu.
Aku pun sama.
Tapi bukan lah masa lalu yang ku inginkan.
Aku hanya ingin kau, siapa pun kau saat ini dan nanti.

Adakah di masa depan, Tuhan pertemukan kita di pinggir jalan atau di suatu tempat entah di mana.

Jika saja ada, aku akan menyapamu dengan lembut, dengan senyum samar-samar dan mengulurkan jemariku untuk menjabat tanganmu.
Seolah kita adalah dua orang asing yang hanya berpapasan di tengah hiruk-pikuk kota.

Dan aku bilang,
“Hey, aku ‘G’.. Boleh aku tahu nama-mu?”

 

23. 09. 2012

.. GieVo

Sang Pencinta

Posted: September 22, 2012 in Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara..
Tags:

Menghela nafas panjang..
Gambar demi gambar kembali memaksaku untuk menyatakan keikhlasan. Namun sakit itu masih nyata. Dan kenyataan mengingatkan bahwa cinta ini sejati. Sejati untuk diendapkan. Sejati untuk dikubur dalam-dalam.

Kamu yang di sana, sang ratu yang menguasai ruang hati dan terus mengalir dalam nadi. Cantik-mu semakin sempurna. Menggoda nafsu sang Pencinta untuk membawamu kembali pulang.

Tapi tidak kali ini..
Karna waktu membuktikan bahwa cinta ini sejati. Sejati untuk diendapkan. Sejati untuk dikubur dalam-dalam..
Dan aku pun kembali meneruskan perjalanan. Sendiri. Tertatih.
Dan berharap sayap-sayap hati yang terpatahkan ini mampu pulih.
Mampu terbang, pergi jauh dan menghilang.
– catatan di pagi hari saat patah hati kesekian kali –
22.09.2012 – 7:05 AM

.. GieVo

Gedung-gedung itu hanya diam..

Berdiri dengan angkuh – mereka kira sudah cukup hebat mencakar langit itu..

Motor – mobil – bus – apa saja.. segala yang dikendara

bersama orang-orang lalu-lalang di bawah sana..

Mengejar waktu – memenuhi janji – meraih rencana-rencana menjadi nyata..

Aku..

di salah satu sisi bumi

Diam – melihat – mendengar – merasakan apa-apa yang menjadi segala..

Bersama secangkir kopi – seteguk.. dua teguk..

Aku..

sedang tak mengejar waktu – tak memenuhi janji

namun ingin meraih rencana-rencana menjadi nyata dalam diam sejenak..

Bersama secangkir kopi – tiga teguk.. empat teguk..

Aku tak bisa berhenti berpikir,

dengan dahi berkerut namun tetap diam..

Diam karena yang ada hanya Aku dan Kopi..


19 . 10 . 2010
03:42 pM

– Saat melihat gedung-gedung pencakar langit bersama kopi –

..GieVo

Dear Mama..

Amarahmu membuatku berpikir
semua ini sudah mencapai titik klimaks.
Kau terus tetap teguh dengan
pemikiranmu tentang kembali pada kodrat.

Tahukah kau, pemahaman kodrat yang kita punya
sungguh jauh berbeda makna?

Kau hanya bisa marah dengan memanfaatkan
kuasamu sebagai orang tua biologis.
Kau tak pernah beri aku kesempatan
untuk menjelaskan semuanya,
untuk bercerita tentang siapa anakmu ini sebenarnya.

Tahukah kau, sungguh aku telah teramat lelah menjalani
skenario Tuhan, di mana aku harus berperan sesuai
dengan raga yang telah diciptakannya?

Tahukah kau, bahwa jiwaku sungguh berlainan dengan
raga yang aku punya?

Jangan terus menghardik-ku, karena aku pun tak pernah meminta
dilahirkan seperti ini!!

Aku bukanlah Aku yang kau lihat, Mama!!
Jangan hanya melihat ragaku.. Jangan butakan mata hatimu dan
Coba kau perhatikan jiwaku..

Demi Allah SWT yang kau sembah.. Lihat aku dengan hatimu, Mama..
Aku adalah anak lelaki-mu..
yang terus kau anggap sebagai anak perempuan
yang harus bertobat dan kembali pada kodrat.

Aku lelah, mama.. Sungguh!!
Semakin hari aku semakin menyakitimu,
dengan pemberontakanku yang samar-samar..
Sungguh aku tak bisa jadi anak perempuanmu!

Semua sudah cukup, Ma..
Kau begitu tampak terbebani karena-ku.
Aku pun cukup sakit dalam bungkam-ku, Ma..

Maaf beribu maaf bila semua ini terlalu egois bagimu.
Anggaplah aku durhaka.. Anggaplah aku pendosa..
Anggaplah aku menyimpang dari ajaran agama,
hingga kau bilang aku harus kembali di-syahadatkan.
Terserah bagimu, Mama..

Ma..
Biarkan aku genapkan satu purnama ini bersamamu.
Purnama selanjutnya, aku berjanji akan memperjuangkan
hidupku sendiri.

Bukan aku tak menyayangimu, Ma..
Tapi aku pun punya hak untuk menyayangi diriku sendiri..

Sungguh aku akan pergi..
Sekalipun kau tak merestui.

_Gerald bukanlah Yuna_
Catatan luka :

12 April 2010
04:06 AM

..GieVo

Terlalu membosankan dunia ini bila kita hanya melakukan hal-hal biasa
yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang biasa-biasa saja.
Mengapa tidak berani berbeda dari yang sama?
Bukankah keberagaman itu lebih terlihat indah daripada keseragaman?
Mengapa yang sedikit dari yang banyak dianggap tiada?
Mengapa yang berada di luar koridor kebiasaan dianggap sakit jiwa?

Aku berbeda..
Namun Aku bukan sakit jiwa..
Inilah jiwa yang kupunya, jiwa yang luar biasa.
Mungkin terkadang tampak sedikit gila,
Tapi bagaimana mungkin mampu satu kejeniusan tercipta bila tak ada seribu kegilaan?

Kau yang di sana bila saja ada,
Jangan bersembunyi di balik keseragaman.
Aku tahu kau pun berbeda, kau pun tak kalah luar biasa.

Mari berjalan-jalan bersamaku.
Mari kita lumuri setapak-setapak bumi dengan warna-warni yang kita punya.
Mari kawan..
Tanpa kita, dapat kukatakan dengan angkuhnya,
“Sung-guh ter-lalu mem-bosan-kan dunia i-ni..”

..GieVo

Bercerita tanpa bicara..

Bila benar rasa itu yang kau punya, maka dengarkanlah tanpa harus mendengar suara..

Kau lihat aku diam, tapi aku tidak diam..

Aku bercerita tanpa bicara seperti angin bercerita pada malam..

Hanya mampu kau dengar bila benar rasa itu kau punya..

Selamat Malam..

..GieVo