Cinta Kasih

Posted: January 13, 2010 in Catatan Usang

Kemarin aku bermimpi tentangmu.

Hari begitu cerah, masih setia dengan asap rokok di sekitarmu berada.

Kau menengadah, memandang awan yang tak pernah balik memandangmu.

Dan sesekali melempar senyum ke arah matahari.

Di dalam mimpi itu, aku juga melihat diriku.

Memandangmu yang tak pernah balik memandangku.

Aku juga melihat diriku bertanya kepadamu,

“Cinta.. Apa kau tidak lelah terus-menerus memandang awan tanpa henti seharian ini?”

Kau diam, tetap dalam posisimu memandang awan, menghisap rokokmu perlahan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

Aku kembali bertanya,

“Cinta.. Apa kau tidak bosan? Lihatlah.. Malam hampir tiba. Tak lama lagi matahari akan hilang dari pandangan, tapi tetap saja awan tidak membalas pandanganmu terhadapnya…”

Kau masih diam..  Aku pun berhenti bertanya namun tetap memandangmu. Memperhatikan keterpakuanmu dan sesekali melirik bungkus rokokmu yang sudah hampir kosong.

Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

Kini kau membuang puntung rokok kesekianmu.  Kemudian terdengar jelas helaan nafas panjang darimu dan kau mulai menjawab,

“Mengapa kau bertanya demikian Kasih? Apa kau tidak menyadari apa yang sedang kau lakukan?”

Aku diam.. Berusaha mencerna pertanyaanmu.

“Lihatlah dirimu..  Sepanjang hari ini hanya memandangku saja, tanpa melakukan kegiatan lain yang berguna.  Apa kau tidak bosan?”

Lalu aku mencoba menjawabmu,

“Bosan? Bagaimana mungkin aku bisa merasa bosan??  Hanya dengan memandangmulah, rasa bosan menjauh dariku..”

Kau kembali berbicara tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Masih memperhatikan awan.

“O begitu ya.. Kalau begitu, pertanyaanmu tadi sudah terjawab kan?”

Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Membingungkan pikirku, tapi tetap saja aku memandangmu kagum. Walaupun sedikit kesal, karena asap rokokmu yang berlebihan.

“Bagaimana mungkin sudah terjawab? Kurasa kau sudah GILA!! Kau tidak bisa menganggap semua hal itu adalah sama. Aku rela memandangmu sepanjang hari ini, rela menghabiskan waktuku hanya untuk menemanimu duduk di beranda ini, memandangi awan tanpa henti. Itu semua karena begitu besarnya rasa cintaku kepadamu. Bagaimana mungkin bisa sama? Jangan kau katakan padaku bahwa kau terus-menerus memandang awan karena kau jatuh cinta padanya. BULLSHIT!! Apa yang bisa kau harapkan dari awan? Ah.. Dan apa yang bisa kau dapatkan dari rokok-rokokmu yang telah kau musnahkan satu-persatu itu? Lihat saja.. Sebentar lagi mungkin kau yang akan dimusnahkan oleh rokok-rokok itu…”

Kemudian kau tersenyum.. Dan tiba-tiba tawamu meledak, tapi masih saja memandang awan.

Sayup-sayup terdengar suara adzan menggema. Setitik lagi malam akan tiba. Kau berhenti tertawa, tapi masih saja menengadah, memandang awan yang sudah tidak begitu kelihatan, karena matahari sudah berhenti menyinarinya.

Kau masih juga menengadah, seperti menunggu sesuatu, mengharap sesuatu. Aku pun masih terus memandangmu, memperhatikan setiap gerak-gerikmu, dan kembali melirik bungkus rokokmu yang sudah benar-benar kosong.

Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

Kini kau mengenyahkan pandanganmu dari langit, menunduk sedikit, menghela nafas, membuang puntung rokok terakhirmu.

Kini kau berbalik ke arahku, memandangku hangat dan langsung memelukku tanpa ragu.

Kini kau berbisik  sangat halus bagaikan angin sepoi-sepoi.

“Kasih.. Entah apa yang dapat melukiskan perasaanku saat ini. Tidak pernah aku sebahagia ini. Tidak pernah aku merasa seberuntung ini. Sepanjang hari ini, aku memandang langit. Ada awan dan matahari. Mereka di sana bercengkerama, tapi kini malam telah tiba, dan akhirnya matahari pun pergi meninggalkan awan.. “

Sedetik kemudian kau tertawa. Melepaskan pelukanmu, menatap bungkus rokokmu pilu.

“Ah.. Rokokku juga sudah habis. Cepat sekali ya habisnya? Buang-buang duit saja..”

Dan kini kau memegang jemariku, kembali berbisik,

“Tapi lihat dirimu Kasih.. Sepanjang hari ini dan setelah malam tiba pun, kau masih saja di sini. Duduk di sampingku, memandangku, tidak meninggalkanku sedetik pun..”

Kini kau kembali diam, tapi bukan menengadah, memandang awan, melainkan memandangku lembut dengan senyuman terindah yang tak pernah kutemui sebelumnya. Dan kau pun kembali memelukku, terus memelukku.

Saat aku terbangun pun, dan mimpi itu berangsur-angsur pergi. Memudar..

Namun dirimu masih memelukku. Erat..

_Sebuah catatan usang saat aku setia menunggu “mu”.. Dulu.._

.. GieVo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s