Aku dan Kopi

Posted in Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara.. on October 21, 2010 by gievolko

Gedung-gedung itu hanya diam..

Berdiri dengan angkuh – mereka kira sudah cukup hebat mencakar langit itu..

Motor – mobil – bus – apa saja.. segala yang dikendara

bersama orang-orang lalu-lalang di bawah sana..

Mengejar waktu – memenuhi janji – meraih rencana-rencana menjadi nyata..

Aku..

di salah satu sisi bumi

Diam – melihat – mendengar – merasakan apa-apa yang menjadi segala..

Bersama secangkir kopi – seteguk.. dua teguk..

Aku..

sedang tak mengejar waktu – tak memenuhi janji

namun ingin meraih rencana-rencana menjadi nyata dalam diam sejenak..

Bersama secangkir kopi – tiga teguk.. empat teguk..

Aku tak bisa berhenti berpikir,

dengan dahi berkerut namun tetap diam..

Diam karena yang ada hanya Aku dan Kopi..


19 . 10 . 2010
03:42 pM

- Saat melihat gedung-gedung pencakar langit bersama kopi -

..GieVo

Surat untuk Mama

Posted in Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara.. on April 12, 2010 by gievolko

Dear Mama..

Amarahmu membuatku berpikir
semua ini sudah mencapai titik klimaks.
Kau terus tetap teguh dengan
pemikiranmu tentang kembali pada kodrat.

Tahukah kau, pemahaman kodrat yang kita punya
sungguh jauh berbeda makna?

Kau hanya bisa marah dengan memanfaatkan
kuasamu sebagai orang tua biologis.
Kau tak pernah beri aku kesempatan
untuk menjelaskan semuanya,
untuk bercerita tentang siapa anakmu ini sebenarnya.

Tahukah kau, sungguh aku telah teramat lelah menjalani
skenario Tuhan, di mana aku harus berperan sesuai
dengan raga yang telah diciptakannya?

Tahukah kau, bahwa jiwaku sungguh berlainan dengan
raga yang aku punya?

Jangan terus menghardik-ku, karena aku pun tak pernah meminta
dilahirkan seperti ini!!

Aku bukanlah Aku yang kau lihat, Mama!!
Jangan hanya melihat ragaku.. Jangan butakan mata hatimu dan
Coba kau perhatikan jiwaku..

Demi Allah SWT yang kau sembah.. Lihat aku dengan hatimu, Mama..
Aku adalah anak lelaki-mu..
yang terus kau anggap sebagai anak perempuan
yang harus bertobat dan kembali pada kodrat.

Aku lelah, mama.. Sungguh!!
Semakin hari aku semakin menyakitimu,
dengan pemberontakanku yang samar-samar..
Sungguh aku tak bisa jadi anak perempuanmu!

Semua sudah cukup, Ma..
Kau begitu tampak terbebani karena-ku.
Aku pun cukup sakit dalam bungkam-ku, Ma..

Maaf beribu maaf bila semua ini terlalu egois bagimu.
Anggaplah aku durhaka.. Anggaplah aku pendosa..
Anggaplah aku menyimpang dari ajaran agama,
hingga kau bilang aku harus kembali di-syahadatkan.
Terserah bagimu, Mama..

Ma..
Biarkan aku genapkan satu purnama ini bersamamu.
Purnama selanjutnya, aku berjanji akan memperjuangkan
hidupku sendiri.

Bukan aku tak menyayangimu, Ma..
Tapi aku pun punya hak untuk menyayangi diriku sendiri..

Sungguh aku akan pergi..
Sekalipun kau tak merestui.

_Gerald bukanlah Yuna_
Catatan luka :

12 April 2010
04:06 AM

..GieVo

Dunia Tanpa Kita

Posted in Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara.. on January 26, 2010 by gievolko

Terlalu membosankan dunia ini bila kita hanya melakukan hal-hal biasa
yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang biasa-biasa saja.
Mengapa tidak berani berbeda dari yang sama?
Bukankah keberagaman itu lebih terlihat indah daripada keseragaman?
Mengapa yang sedikit dari yang banyak dianggap tiada?
Mengapa yang berada di luar koridor kebiasaan dianggap sakit jiwa?

Aku berbeda..
Namun Aku bukan sakit jiwa..
Inilah jiwa yang kupunya, jiwa yang luar biasa.
Mungkin terkadang tampak sedikit gila,
Tapi bagaimana mungkin mampu satu kejeniusan tercipta bila tak ada seribu kegilaan?

Kau yang di sana bila saja ada,
Jangan bersembunyi di balik keseragaman.
Aku tahu kau pun berbeda, kau pun tak kalah luar biasa.

Mari berjalan-jalan bersamaku.
Mari kita lumuri setapak-setapak bumi dengan warna-warni yang kita punya.
Mari kawan..
Tanpa kita, dapat kukatakan dengan angkuhnya,
“Sung-guh ter-lalu mem-bosan-kan dunia i-ni..”

..GieVo

Aku, Kau, Angin dan Malam

Posted in Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara.. on January 25, 2010 by gievolko

Bercerita tanpa bicara..

Bila benar rasa itu yang kau punya, maka dengarkanlah tanpa harus mendengar suara..

Kau lihat aku diam, tapi aku tidak diam..

Aku bercerita tanpa bicara seperti angin bercerita pada malam..

Hanya mampu kau dengar bila benar rasa itu kau punya..

Selamat Malam..

..GieVo

Andai Saja Ada

Posted in Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara.. on January 19, 2010 by gievolko

Andai saja ada alat transfer penyakit, aku ingin kau mentransfer penyakitmu padaku sekarang juga. Transfer semuanya tanpa sisa. Percayakan aku untuk mengidapnya.

Andai saja ada alat penambah umur, akan aku hadiahkan untukmu setiap hari, agar umurmu senantiasa bertambah. Tiada kunjung habis.

Andai saja reinkarnasi itu nyata adanya, aku ingin kita bertemu lagi. Dengan kau tetap menjadi kau dan aku tetap menjadi aku.

Karena aku masih ingin mewujudkan impianku, berkolaborasi denganmu dalam menciptakan dunia yang indah untuk kita semua.

_Saat menangis karena otak terkuras memikirkan “Si Malaikat Besar”_

..GieVo

15 Januari 2010

Posted in Aku Merasa.. Aku Berpikir.. Aku Bicara.. on January 15, 2010 by gievolko

Sayang..

Benarkah 15 Januari tahun ini adalah 15 Januari terburuk yang kau punya?
Bukankah seharusnya kau tersenyum, tertawa, berbahagia?
Mengapa dirimu  terlalu keras berpikir sehingga semuanya terlihat sangat buruk?

Bersalahkah aku padamu hari ini?
Kau bilang, 15 Januari 2010 adalah 15 Januari terburukmu.
Kau bilang, kau takkan melupakan hari ini.
Sungguh burukkah 15 Januari kali ini? Atau hanya suasana hatimu saja yang terlampau buruk?

Maaf.. Maaf bila semuanya terlihat dan terasa sungguh buruk.
Tapi coba kau renungkan kembali, apa benar seburuk itu??

Sekali lagi aku ucapkan,

, dear V..  Wish you all the best in your whole life time..”

..GieVo

Cinta Kasih

Posted in Catatan Usang on January 13, 2010 by gievolko

Kemarin aku bermimpi tentangmu.

Hari begitu cerah, masih setia dengan asap rokok di sekitarmu berada.

Kau menengadah, memandang awan yang tak pernah balik memandangmu.

Dan sesekali melempar senyum ke arah matahari.

Di dalam mimpi itu, aku juga melihat diriku.

Memandangmu yang tak pernah balik memandangku.

Aku juga melihat diriku bertanya kepadamu,

“Cinta.. Apa kau tidak lelah terus-menerus memandang awan tanpa henti seharian ini?”

Kau diam, tetap dalam posisimu memandang awan, menghisap rokokmu perlahan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

Aku kembali bertanya,

“Cinta.. Apa kau tidak bosan? Lihatlah.. Malam hampir tiba. Tak lama lagi matahari akan hilang dari pandangan, tapi tetap saja awan tidak membalas pandanganmu terhadapnya…”

Kau masih diam..  Aku pun berhenti bertanya namun tetap memandangmu. Memperhatikan keterpakuanmu dan sesekali melirik bungkus rokokmu yang sudah hampir kosong.

Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

Kini kau membuang puntung rokok kesekianmu.  Kemudian terdengar jelas helaan nafas panjang darimu dan kau mulai menjawab,

“Mengapa kau bertanya demikian Kasih? Apa kau tidak menyadari apa yang sedang kau lakukan?”

Aku diam.. Berusaha mencerna pertanyaanmu.

“Lihatlah dirimu..  Sepanjang hari ini hanya memandangku saja, tanpa melakukan kegiatan lain yang berguna.  Apa kau tidak bosan?”

Lalu aku mencoba menjawabmu,

“Bosan? Bagaimana mungkin aku bisa merasa bosan??  Hanya dengan memandangmulah, rasa bosan menjauh dariku..”

Kau kembali berbicara tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Masih memperhatikan awan.

“O begitu ya.. Kalau begitu, pertanyaanmu tadi sudah terjawab kan?”

Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Membingungkan pikirku, tapi tetap saja aku memandangmu kagum. Walaupun sedikit kesal, karena asap rokokmu yang berlebihan.

“Bagaimana mungkin sudah terjawab? Kurasa kau sudah GILA!! Kau tidak bisa menganggap semua hal itu adalah sama. Aku rela memandangmu sepanjang hari ini, rela menghabiskan waktuku hanya untuk menemanimu duduk di beranda ini, memandangi awan tanpa henti. Itu semua karena begitu besarnya rasa cintaku kepadamu. Bagaimana mungkin bisa sama? Jangan kau katakan padaku bahwa kau terus-menerus memandang awan karena kau jatuh cinta padanya. BULLSHIT!! Apa yang bisa kau harapkan dari awan? Ah.. Dan apa yang bisa kau dapatkan dari rokok-rokokmu yang telah kau musnahkan satu-persatu itu? Lihat saja.. Sebentar lagi mungkin kau yang akan dimusnahkan oleh rokok-rokok itu…”

Kemudian kau tersenyum.. Dan tiba-tiba tawamu meledak, tapi masih saja memandang awan.

Sayup-sayup terdengar suara adzan menggema. Setitik lagi malam akan tiba. Kau berhenti tertawa, tapi masih saja menengadah, memandang awan yang sudah tidak begitu kelihatan, karena matahari sudah berhenti menyinarinya.

Kau masih juga menengadah, seperti menunggu sesuatu, mengharap sesuatu. Aku pun masih terus memandangmu, memperhatikan setiap gerak-gerikmu, dan kembali melirik bungkus rokokmu yang sudah benar-benar kosong.

Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik..

Kini kau mengenyahkan pandanganmu dari langit, menunduk sedikit, menghela nafas, membuang puntung rokok terakhirmu.

Kini kau berbalik ke arahku, memandangku hangat dan langsung memelukku tanpa ragu.

Kini kau berbisik  sangat halus bagaikan angin sepoi-sepoi.

“Kasih.. Entah apa yang dapat melukiskan perasaanku saat ini. Tidak pernah aku sebahagia ini. Tidak pernah aku merasa seberuntung ini. Sepanjang hari ini, aku memandang langit. Ada awan dan matahari. Mereka di sana bercengkerama, tapi kini malam telah tiba, dan akhirnya matahari pun pergi meninggalkan awan.. “

Sedetik kemudian kau tertawa. Melepaskan pelukanmu, menatap bungkus rokokmu pilu.

“Ah.. Rokokku juga sudah habis. Cepat sekali ya habisnya? Buang-buang duit saja..”

Dan kini kau memegang jemariku, kembali berbisik,

“Tapi lihat dirimu Kasih.. Sepanjang hari ini dan setelah malam tiba pun, kau masih saja di sini. Duduk di sampingku, memandangku, tidak meninggalkanku sedetik pun..”

Kini kau kembali diam, tapi bukan menengadah, memandang awan, melainkan memandangku lembut dengan senyuman terindah yang tak pernah kutemui sebelumnya. Dan kau pun kembali memelukku, terus memelukku.

Saat aku terbangun pun, dan mimpi itu berangsur-angsur pergi. Memudar..

Namun dirimu masih memelukku. Erat..

_Sebuah catatan usang saat aku setia menunggu “mu”.. Dulu.._

.. GieVo

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.